Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Biar Lambat Asal Santai

Diposting oleh Arsyad Salam | Minggu, Januari 25, 2009 | , , , | 1 komentar »

Kemarin secara tak sengaja saya bertemu dengan birokrasi Indonesia di sebuah Puskesmas Kecamatan di Kota Kendari. Wajahnya dingin dan kaku. Ia masih seperti dulu: lambat dan santai, serta mengulur waktu dalam menyelesaikan segala urusan yang berkaitan dengan nasib orang ramai.

Wajah birokrasi kiita tampaknya begitu menjengkelkan. Kondisi kerja di Puskesmas itu menunjukkan dengan jelas bagaimana wajah birokrasi kita-meskipun mengkin hanya sebuah aksiden dalam dunia pemerintahan kita yang begitu centang-perenang, khususnya yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat. Lambat dan santai adalah dua kosa kata yang selalu dipegang teguh aparat birokrasi kita. Kalau bisa lambat kenapa harus dipercepat? Kalau bisa sulit kenapa harus dipermudah.

Sambil melamun saya duduk di hadapan dokter muda (seorang wanita) yang akan memeriksa saya. Belum lagi sang dokter bertanya ini-itu, telepon genggamnya berdering dan ruang periksa itu kemudian berubah menjadi ruang gossip ala infotainment televisi. Macam-macamlah yang dibahas melalui HP tersebut. Saya perhatikan si dokter sudah lupa kepada pasiennya. Dia lupa bahwa dirinya masih berada di puskesmas. Dia lupa bahwa di luar masih banyak pasien lain yang menunggu diperiksa. Padahal orang begitu ramai dan orang ramai cenderung terdesak waktu dalam berurusan.

Tak puas dengan hanya berhalo-halo sambil duduk, si dokter mulai berdiri dan berbicara dengan si penelepon. Melihat gelagat bicaranya, mungkin sang penelepon adalah pejabat penting (setidaknya ia mungkin adalah Presiden RI). Saya hanya melongo dan bergumam pendek “Dokter, kalau begini kapan pasien akan diurus? . Mendengar ini si dokter segera sadar bahwa dia masih memakai baju dinas dan masih bertugas. Dan dia menjawab ketus, jawaban khas aparat birokrasi “Kalau bapak sudah tidak sabar silakan pergi ke tempat lain”
Sayapun terdiam, tak bicara lagi hingga keluar Puskesmas. Dalam perjalanan pulang, saya tersadar seperti baru terbangun dari mimpi buruk. Mimpi buruk bertemu wajah birokrasi kita. (**)



Lagi Blogger Peduli Bencana

Diposting oleh Arsyad Salam | Minggu, Januari 25, 2009 | , , , | 1 komentar »


Kemarin saya baca-baca Pecas Ndahe. Entah kenapa tiap membuka blog ini saya selalu diliputi perasaan tak tentu. Selalu ada ide atawa inspirasi yang timbul dari sana.

Dan betul saja. Ada postingan baru mengenai gagasan pembentukan blogger peduli bencana. Setelah beberapa waktu lalu berhasil menggagas Gerakan Seribu Buku, kini para blogger kembali menelorkan satu ide cemerlang: pembentukan blogger peduli bencana yang terintegrasi secara nasional dengan menggandeng komunitas blogger di daerah-daerah sebagai stakeholder utama.

Surat Terbuka Buat Wakil Rakyat

Diposting oleh Arsyad Salam | Minggu, Februari 03, 2008 | | 1 komentar »


Rakyat Kecil Dilarang Miskin

Dengan segala hormat,

Dengan ini disampaikan kepada Bapak-Bapak bahwa kondisi bangsa saat ini sudah diambang kebangkrutan. Kebangkrutan ekonomi, moneter, sosial budaya serta kebangkrutan moral. Hilangnya sense of crisis di antara kita. Tak ada lagi yang menaruh hormat pada kedaulatan sendiri di atas tanah air NKRI.

Bapak-bapak.....
Mengapa rakyat merasa belum merdeka dalam arti yang sesungguhnya? Mengapa mereka kian menderita saja? Terhimpit dan terkapar kalah di tengah persaingan hidup yang kejam ini. Rakyat miskin seperti dicakar oleh kondisi hidupnya sendiri. Harga-harga kian menggila dan tak terkendali seperti nafsu berkuasa segelintir orang yang dimabuk setan.

Mengapa pak, mengapa ini semua terjadi. Rakyat banyak susah cari makan. Ada yang makan nasi aking. Ada yang makan umbi hutan. Makanan yang tak pernah terbayangkan akan jadi pengisi perut di saat-saat seperti ini. Padahal dulu di masa Soeharto berkuasa (yang katanya kejam itu) negara kita pernah mendapat penghargaan dunia karena swasembada pangan. Kini kita harus mengemis-ngemis kedelai (bukan keledai) dari luar negeri. Inikah buah reformasi? Atau mungkin salah urus yang parah?

Pak... di luar banyak rakyat yang antri. Antri minyak tanah, berobat di rumah sakit karena demam berdarah. Apakah bapak melihat dan menyimak itu semua. Lihatlah baik-baik pak.. maka bapak akan tahu bagaimana susahnya hidup rakyat sekarang.

Bapak-bapak yang mulia..
Kemiskinan rakyat sekarang hanya ada dalam angka-angka statistik dengan kurve yang menunjukkan kenaikan terus-menerus. Kemiskinan hanya terdengar di seminar, rapat-rapat dan ceramah-ceramah politik. Jangan lupa, kemiskinan dapat menyebabkan orang berbuat jahat. Kriminal dan rupa-rupa kekufuran lainnya.

Atau jangan-jangan benar apa yang dikatakan Gunawan Mohammad, bahwa kemiskinan adalah proyek percontohan kemalangan ?

Maafkan saya pak.. bukannya saya menggurui bapak-bapak, tapi cobalah dengar hati kecil rakyat. Dengar jeritan mereka... dengan begitu bapak akan merasakan bagaimana rakyat kecil bertahan hidup di zaman yang kian primitif ini...

Melihat kondisi ini mungkin ada baiknya bila pemerintah mengeluarkan satu beslit yang isinya ”Rakyat kecil dilarang miskin”. Bagaimana pak?

Semoga surat ini mendapat perhatian dan maafkan atas kelancangan saya..

Tetaplah kritis dan berpikir merdeka

Salam


NB: di Maluku Polisi dan TNI bentrok lagi. Tentara dan polisi kita masih kayak anak kecil saja kelakuannya. Sungguh memalukan...