Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Biar Lambat Asal Santai

Diposting oleh Arsyad Salam | Minggu, Januari 25, 2009 | , , , | 1 komentar »

Kemarin secara tak sengaja saya bertemu dengan birokrasi Indonesia di sebuah Puskesmas Kecamatan di Kota Kendari. Wajahnya dingin dan kaku. Ia masih seperti dulu: lambat dan santai, serta mengulur waktu dalam menyelesaikan segala urusan yang berkaitan dengan nasib orang ramai.

Wajah birokrasi kiita tampaknya begitu menjengkelkan. Kondisi kerja di Puskesmas itu menunjukkan dengan jelas bagaimana wajah birokrasi kita-meskipun mengkin hanya sebuah aksiden dalam dunia pemerintahan kita yang begitu centang-perenang, khususnya yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat. Lambat dan santai adalah dua kosa kata yang selalu dipegang teguh aparat birokrasi kita. Kalau bisa lambat kenapa harus dipercepat? Kalau bisa sulit kenapa harus dipermudah.

Sambil melamun saya duduk di hadapan dokter muda (seorang wanita) yang akan memeriksa saya. Belum lagi sang dokter bertanya ini-itu, telepon genggamnya berdering dan ruang periksa itu kemudian berubah menjadi ruang gossip ala infotainment televisi. Macam-macamlah yang dibahas melalui HP tersebut. Saya perhatikan si dokter sudah lupa kepada pasiennya. Dia lupa bahwa dirinya masih berada di puskesmas. Dia lupa bahwa di luar masih banyak pasien lain yang menunggu diperiksa. Padahal orang begitu ramai dan orang ramai cenderung terdesak waktu dalam berurusan.

Tak puas dengan hanya berhalo-halo sambil duduk, si dokter mulai berdiri dan berbicara dengan si penelepon. Melihat gelagat bicaranya, mungkin sang penelepon adalah pejabat penting (setidaknya ia mungkin adalah Presiden RI). Saya hanya melongo dan bergumam pendek “Dokter, kalau begini kapan pasien akan diurus? . Mendengar ini si dokter segera sadar bahwa dia masih memakai baju dinas dan masih bertugas. Dan dia menjawab ketus, jawaban khas aparat birokrasi “Kalau bapak sudah tidak sabar silakan pergi ke tempat lain”
Sayapun terdiam, tak bicara lagi hingga keluar Puskesmas. Dalam perjalanan pulang, saya tersadar seperti baru terbangun dari mimpi buruk. Mimpi buruk bertemu wajah birokrasi kita. (**)



Lagi Blogger Peduli Bencana

Diposting oleh Arsyad Salam | Minggu, Januari 25, 2009 | , , , | 1 komentar »


Kemarin saya baca-baca Pecas Ndahe. Entah kenapa tiap membuka blog ini saya selalu diliputi perasaan tak tentu. Selalu ada ide atawa inspirasi yang timbul dari sana.

Dan betul saja. Ada postingan baru mengenai gagasan pembentukan blogger peduli bencana. Setelah beberapa waktu lalu berhasil menggagas Gerakan Seribu Buku, kini para blogger kembali menelorkan satu ide cemerlang: pembentukan blogger peduli bencana yang terintegrasi secara nasional dengan menggandeng komunitas blogger di daerah-daerah sebagai stakeholder utama.

Rendahnya Minat Baca Sangat Berbahaya

Diposting oleh Arsyad Salam | Minggu, Maret 02, 2008 | | 4 komentar »

Essais Jacob Sumardjo dalam kumpulan tulisannya di Harian Pikiran Rakyat Bandung yang telah diterbitkan kembali menjadi buku pernah menuliskan kekuatirannya tentang makin rendahnya minat baca khususunya membaca buku di kalangan masyarakat kita. Para pelajar sekolah menengah hanya membaca ketika mau ulangan. Mahasiswa hanya membaca saat mau ujian. Sedangkan para birokrat dan aparat negara hanya membaca apa yang terkait dengan bidang tugasnya misalnya buku perundang-undangan.

Makin rendahnya minat baca merupakan ancaman yang potensial mengganggu program peningkatan kualitas sumber daya manusia di segala bidang dan lapisan masyarakat lantaran ia bisa membikin tumpul kepekaan kita terhadap segala hal utamanya manusia dan kemanusiaan.

Tingginya animo masyarakat untuk membaca surat kabar dan majalah saat ini sebagaimana tampak di instansi pemerintah dan perpustakaan tidak bisa dijadikan patokan bahwa minat baca sudah meningkat. Perlu diketahui bahwa membaca koran dan majalah hanyalah usaha yang susah payah untuk mengoleksi informasi atawa untuk mengetahui peristiwa yang bersifat temporal atau sesaat. Orientasi para pembaca koran oleh karena itu bukanlah untuk menambah pengetahuan dan wawasan akan tetapi untuk menambah koleksi informasi.

Tidak berarti bahwa membaca koran tidak bermanfaat. Namun pengetahuan yang kita dapat dari sana sangat dangkal sifatnya. Sebagaimana sifat berita, orang akan jenuh bila informasi yang didapat telah selesai dibaca, namun tak berdampak apa-apa terhadap perilakunya. Pernahkah anda membaca pidato pelantikan Max Havelaar sebagai Asisten Residen Lebak yang sangat terkenal itu ? Hal-hal seperti inilah yang tidak akan mungkin didapat di koran-koran nasional apalagi koran lokal, kecuali kita mencarinya dalam buku.

Banyak kalangan yang menuding perkembangan teknologi audio visual semisal televisi sebagai biang kerok penyebab hilangnya minat baca buku tersebut. Benarkah ?

Di negara-negara maju seperti Jepang, Inggris dan Amerika kemajuan teknologi audio visual tidak berpengaruh sedikitpun terhadap tingginya minat orang membaca buku. Orang bisa saja menonton televisi setelah membaca atau sebaliknya. Di kereta api, di dalam bus kota, di pesawat udara orang tetap menikmati bacaannya tanpa terganggu dengan hal-hal lain misalnya percakapan yang tidak berguna alias hanya memperbesar tenggorokan saja.

Saya sendiri, meskipun baru membaca sedikit, sudah merasakan bedanya antara membaca buku dan menonton televisi misalnya. Dulu ada beberapa film yang dibuat berdasarkan cerita novel seperti Sitti Nurbaya, Atheis dan Sengsara Membawa Nikmat. Bagi pembaca yang tekun, tentu banyak yang merasa kecewa menonton film-film yang disadur dari cerita buku. Kenapa demikian ? Mungkin cerita yang disajikan televisi tidak lengkap dan tidak dapat kita jiwai lantaran ia adalah barang yang siap saji, kita tinggal melihatnya saja. Sementara itu membaca cerita film tersebut dalam versi aslinya akan sangat mengasyikkan karena kita membangun sendiri karakter tokoh-tokoh cerita dalam buku itu di kepala kita. Tak heran Goenawan Mohammad dalam salah satu kolomnya pernah mengutip iklan sebuah novel di Amerika yang berbunyi “Bacalah buku ini sebelum dirusak oleh Hollywood”

Di negara-negara maju secara berkala selalu diadakan pameran buku selain pameran alat-alat elektronik Yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya. Yang membaca buku hanyalah para ilmuwan, cendekiawan atau mahasiswa pasca sarjana yang akan menyusun disertasi serta para peminat buku yang jumlahnya sangat sedikit itu.

\Rendahnya minat baca mungkin juga adalah pengaruh latar belakang budaya kita yang memang tidak terbiasa dengan bacaan. Dulu para nenek moyang kita memperoleh ilmu dengan cara bertapa dan semedi atau berguru pada orang-orang pintar. Kepandaian yang selalu disampaikan secara lisan turun-temurun.

Selain kendala kultural seperti di atas, ada hambatan lain secara struktural hingga orang malas membaca.

Pertama : Harga buku yang sangat mahal sementara kondisi perekonomian masyarakat masih memprihatinkan. Orang tentu lebih memilih membeli kebutuhan pokok sehari-hari dari pada membeli buku. Asumsi ini tidak dapat dibenarkan sepenuhnya karena banyak orang yang secara ekonomi telah mampu justru tidak membeli buku. Mereka lebih memilih membeli hand phone terbaru (biasanya yang pakai kamera) buat anak-anaknya dari pada membeli buku. Pernahkah anda dengar ada orang tua yang memberikan hadiah ulang tahun berbentuk buku bacaan pada anaknya ?. Marwah Daud Ibrahim pernah berkisah bahwa pelajar dan mahasiswa sekarang banyak yang tidak tahu cara membuka buku ensiklopedi.

Kedua : Pola dan gaya hidup masyarakat kita yang memang tampaknya selalu ingin unjuk diri, pamer akan kelebihan-kelebihan dari segi materi. Kita belum pernah mendengar pujian misalnya “Wah bagus benar bukunya, buku seperti itu sudah langka lho di pasaran”. Yang akrab di telinga kita justru kata-kata seperti “ Wah bagus sekali ponselmu, berapa harganya ? apakah merek Nokia, Siemens, Motorola, Samsung. Wah pakai kamera lagi”. Pengetahuan yang kita peroleh melalui membaca buku memang tidak bisa tampak serta merta seperti pakaian misalnya. Ia adalah asset yang hanya dapat disimpan untuk sekali-sekali digunakan.

Ketiga : Adanya kesalahan persepsi terhadap membaca. Membaca dianggap sebagai pekerjaan yang membuang –buang waktu saja. Tidak efektif. Bahkan orang yang rajin membaca mendapatkan julukan yang aneh yakni kutu buku. Ia hanya dianggap sejenis serangga yang mengganggu kehidupan orang-orang. Persepsi inilah yang harus diluruskan di masyarakat Padahal membaca merupakan pekerjaan yang berat karena ia membutuhkan konsentrasi tinggi dan olah pikiran yang tidak main-main.

Keempat : kurangnya fasilitas membaca bagi masyarakat umum yang dibangun oleh pemerintah. Program peningkatan minat baca sebagaimana selalu didengungkan pemerintah tidak akan berdampak apa-apa tanpa dibarengi dengan fasilitas bacaan untuk publik. Perpustakaan daerah hanya satu dengan koleksi buku yang sangat memprihatinkan. Buku berjudul Hantu Marxisme Membayangi Dunia misalnya baru tiba di Sultra akhir tahun lalu padahal di Jawa buku itu sudah hampir dilupakan orang. Bayangkan, perpustakaan daerah Sultra tidak punya satupun koleksi buku Di Bawah Bendera Revolusi (kumpulan tulisan Bung Karno).

Bagaimana ini pak Presiden SBY ?




Orang Cina dan Kita

Diposting oleh Arsyad Salam | Minggu, Maret 02, 2008 | | 0 komentar »

Mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew mungkin orang yang luhur tapi mungkin juga tidak. Kita ingat Bapak bangsa keturunan hoaikiau itu pernah mengatakan bahwa bangsa-bangsa tetangganya yang punya ras melayu adalah bangsa yang tidak intens, tidak kreatif lagi malas. Namun anehnya mereka paling doyan berbelanja, berleha-leha tanpa mau banting tulang Kebudayaan melayu kata Lee memang membuka peluang bagi rasa malas sonder kerja tapi cepat ingin kaya tanpa mau peras keringat. Sementara itu Singapura yang memang mayoritas hoaikiau tergolong bangsa yang tekun dan ulet dalam berusaha. Mereka tak ngoyo atau ogah-ogahan. Benarkah demikian ?

Tunggu dulu. Sejarah belum selesai mencatat dan Lee ternyata tidak asal ngomong. Coba kita lihat statistik. Di lapangan bisnis, hanya segelintir orang kita yang berkutat di bidang ini. Sementara itu warga keturunan Cina yang populasinya hanya 5 persen dari total penduduk, hampir mendominasi perekonomian Indonesia. Pendapat Lee tersebut seakan mendapat stempel pengesahan manakala pemerintahan Orde Baru membuka peluang bagi mereka untuk berusaha. Kelompok pengusaha pribumi yang memang belum terbiasa dalam iklim persaingan akhirnya pada keok dan berguguran.

Banyak pendapat mengatakan bahwa kekalahan Indonesia di rumahnya sendiri tidaklah terjadi serta-merta. Semua itu kata orang adalah faktor budaya kita yang memang tidak menumbuhkan iklim kompetitif secara sehat bila tidak diberi proteksi oleh pemerintah.

Menurut data Leo Suryadinata sebagaimana dikutip Eep Saefullah Fattah, di Indonesia, dominasi ekonomi Cina terjadi di tengah minoritasnya orang Cina dibanding pribumi. Pada tahun 1980 misalnya, hanya ada sekitar 4 juta orang Cina (2,8%) dari 147 juta penduduk Indonesia. “Pada saat yang sama sebagaimana ditunjukkan Yahya Muhaimin, dari 41,25% investasi modal domestik, 26,95% adalah modal orang Cina dan hanya 11,20% modal pribumi” kata Eep Saefullah Fattah.

Bila kita melacak lebih jauh, beda populasi antara pengusaha Cina dan pribumi kian terang. Dari 200 konglomerat yang bisa diidentifikasi, hanya 37 konglomerat pribumi yang omzetnya di bawah Rp 1 triliun. Berdasarkan jumlah asset yang dimiliki maka ada 10 konglomerat Cina yang masuk ranking. Di antaranya ururtan pertama tentu saja Sudono Salim alias Liem Sioe Liong. Menyusul Prajogo Pangestu alias Phang Djun Phin, Eka Tjipta Widjaya alias Oei Ek Tjhong, Michael Bambang Hartono alias Oei Hwei Siang dan lainnya.

Kita pun tertegun bila tahu bahwa mereka itu juga punya hubungan sangat mesra dengan penguasa. Kita pun iri dan menelan itu semua seraya menyaksikan kondisi perekomian kita yang porak-poranda dihantam krisis. Lee Kuan Yew mungkin benar ketika mengatakan bahwa ras melayu memang bukanlah pekerja keras. Tapi apakah asumsi Lee tersebut dapat dibenarkan ? Tidak, kata SH Alatas.


SH Alatas adalah Guru Besar pada Jabatan Pengajian Melayu di Universitas Nasional Singapura. Dalam bukunya yang terbit 1988 berjudul Mitos Pribumi Malas, Alatas mengecam pendapat yang mengatakan bahwa ras Melayu adalah pemalas. Menurutnya, ada kesalahan fatal dalam menilai ras Melayu bila mengikuti pendapat para ahli dari barat.
Kesalahan itu kata Alatas pula lantaran kita melihat orang Melayu dengan kacamata seperti itu. Dan itu sangat menyesatkan. Ia hanyalah mitos yang sengaja ditiupkan oleh kaum kolonialisme agar kekuasaannya di tanah jajahan bertambah kukuh. Ada seorang ahli bernama FA Swettenham yang menulis beberapa ciri orang Melayu yakni kebenciannya terhadap kerja keras yang terus menerus baik dengan otak maupun dengan tangannya.
Para penjajah itu-yang juga membawa para ahli-selalu membandingkan orang Asia khususnya Melayu dengan kaum pekerja pabrik di Eropa abad 19.
Para pekerja pabrik Eropa memang sangat giat bekerja karena orientasinya memang pada keuntungan semata. Sementara itu orang Melayu bekerja tanpa standar seperti itu. Orang Melayu juga bekerja tanpa ukuran waktu, merekalah yang mengatur waktu, bukan sebaliknya. Sebagaimana Rafless, anggapan Lee Kuan Yew mungkin saja berangakat dari sana.

Apa boleh buat, kita memang tidak punya pledoi yang cukup atas pendapat seperti itu. Kita bisa lihat misalnya derasnya arus orang kita yang berbelanja di Singapura sementara mereka tahu bahwa Indonesia adalah negara yang miskin untuk ukuran Asia. Alatas memang telah menyatakan bahwa asumsi malas ras Melayu adalah rekayasa barat, namun kita sepertinya tak kepingin membuktikan itu. Kita pun terus dipertontonkan dengan segala rupa kejadian yang membenarkan bahwa kita memang tergolong bangsa yang tidak intens.

Di tahun 70-an dulu kita dihebohkan kasus Komisi Haji Tahir di Pertamina. Harta hasil korupsinya lantas disimpan di sebuah bank di Singapura, tepat di depan hidung Lee Kuan Yew. Tentu saja Lee bertepuk tangan untuk itu. Tapi mau apa kita ? (**)




Perihal Politik Kotor

Diposting oleh Arsyad Salam | Jumat, Februari 08, 2008 | | 0 komentar »


Dunia politik penuh dengan intrik

Cubit sana-cubit sini itu sudah lumrah
Seperti orang pacaran
Kalau nggak nyubit nggak asik

(Iwan Fals-Asik Nggak Asik)

Iwan Fals menyanyi tentang politik. Dalam kacamata Iwan, (bila menyimak seluruh isi lagu) politik dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang kotor, najis dan polutan. Pendapat seperti itu selaras dengan apa yang pernah dikemukakan oleh seorang negarawan Italia di abad 16 : Niccolo Machiavelli.

Tentu saja politik sendiri tidak dapat diartikan secara pukul rata seperti itu. Dalam arti sesungguhnya politik sebenarnya adalah mencari dan memilih jalan yang disepakati bersama menuju hal-hal yang lebih baik. Namun tulisan ini hanya akan mencoba melihat sisi lain politik sebagaimana penilaian kebanyakan orang saat ini yakni dengan cara Machiavelli melihat politik.

Machiavelli, mungkin merupakan politikus dan negarawan paling kontroversi sepanjang sejarah. Pandangan-pandangannya yang kemudian digolongkan sebagai Machiavellianisme pun berkembang beranak pinak. Salah satu sebab mengapa faham ini begitu populer adalah lantaran ia membuang sejauh mungkin kaidah-kaidah moral dan etika dalam dunia politik.

Dalam buku Il Principe (Sang Penguasa) kita bisa melihat bagaimana nasehat Machiavelli kepada para penguasa. Kata Machiavelli : Seorang pemimpin atau penguasa harus tahu berjuang dengan hukum dan berjuang dengan kekerasan. Ia harus tahu menggunakan cara-cara manusia tetapi juga cara-cara binatang. Seorang pemimpin atau penguasa harus bisa menepati janji, tetapi apabila janji itu akan merugikan dirinya sendiri maka ia tak perlu menepati janjinya. Seorang pemimpin atau penguasa tak perlu memiliki sifat-sifat baik tapi sangat perlu tampak seakan-akan memilikinya. Hipokrisi ? Kemunafikan ? Entahlah. Yang jelas semua itu sepertinya terasa akrab bagi sebagian kalangan di bangsa kita.

Kita bisa saja tidak setuju dengan nasehat seperti itu lantas membuat penafsiran sendiri yang katanya harus sesuai dengan norma-norma, kaidah dan etika politik kita sebagai orang timur. Kita punya Pancasila kok, kita punya asas gotong royong dan kekeluargaan kok, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Benarkah demikian ? Bukankah Pancasila hanya bisa ditafsirkan oleh dan untuk kepentingan yang berkuasa saja ? Bukankah gotong royong dan kekeluargaan hanya berlaku untuk rakyat biasa saja, sedang yang di atas tidak pernah melakukannya ? Tidakkah asas kekeluargaan hanya dimaknai sebagai nepotisme ? Bukankah berat sama dipikul ringan sama dijinjing tetapi semuanya dipikul oleh rakyat baik yang berat maupun yang ringan. Dengan kata lain berat sama dipikul ringan sama dijinjing tinggal menjadi pepatah dalam buku pelajaran bahasa Indonesia sekolah dasar ?

Terus terang kalau kita mau jujur, ajaran Machiavelli yang banyak dikecam, dikutuk sekaligus dipuji itu, sebenarnya diam-diam kita praktekkan dengan baik dan tanpa malu-malu. Tengoklah di sekeliling kita bagaimana semua itu terjadi : pejabat publik membohongi rakyat, wakil rakyat membohongi rakyat, penguasa dan pengusaha membohongi rakyat, aparat negara membohongi rakyat. Dengan kejadian seperti itu bagaimana rakyat tidak merasa frustasi ? Bohong telah menjadi menu kita sehari hari. Korupsi merajalela. Suap-menyuap dibudayakan. Kolusi dan nepotisme menjadi kebanggaan. Hukum ditafsirkan berdasarkan kepentingan masing-masing orang. Dan semua itu terjadi persis di suatu tempat yang pintu gerbangnya bertuliskan : Negara Republik Indonesia.

Dunia politik dunia bintang, tempat pesta pora para “binatang” kata Iwan. Kata binatang (dalam tanda kutip) sebagaimana juga dikatakan Machiavelli termanivestasi dengan baik dalam hidup keseharian kita. Percaya ? Tidak percaya ? Wallahualam Bissawab (**)

News

Diposting oleh Arsyad Salam | Kamis, Februari 07, 2008 | | 0 komentar »

by Rakanez

When people are asked to give their opinion of the news media, responses range from bitter contempt to noble constitutional defense. "They got the facts wrong" is a statement often seen in print, usually quoted by the subject of the story in question. The story might be an obituary, or a well intentioned feel-good piece about a local hero; but good intentions are dashed when the last name is spelled incorrectly or the reporter sourced background material from an unreliable 3rd party or worse, did no research at all.

Is news reporting perfect? Hardly, but facts are usually best represented by people who can ferret them out, invest a little objectivity and communicate them succinctly. It also shouldn't come as any surprise that there are many ways to convey 'the story' or 'tell the truth'. It doesn't always have to start and end with a degreed experienced journalist, and that would be especially true in a perfect, or more aptly, complete world.

Now, professional journalists and news makers share the headlines with citizen journalists - people with a story to tell. Complete World News is a hybrid news web magazine that combines hard-hitting reporting from professional news organizations with the eye-witness accounts of everyday people living those stories, and some stories that would other-wise not see the light of day.

"Traditional news sources tend to throw news at us," says founder Gary P. Bryant, "to be sure, the information these sources provide is relevant to most of us, but it's certainly not the whole picture. Citizen journalists have an opportunity here to shed some light on the other side of current events."

Citizen journalists are not paid professional reporters. Rather, they are ordinary people that have opinions, or community volunteers that see part of their mission as reporting the news and issues from their own point of view. Complete World News offers registered visitors the opportunity to host their own news blog and see their stories posted right along side those of professional journalists.

To help first time news bloggers to become citizen journalists, Complete World News offers a free tutorial that shows new users how to report their stories in a credible way. Complete World News also features video news broadcasts from the world's leading news sources, and in-depth analysis of current issues. Additionally, the site hosts a geo-political knowledge base that offers historical summaries of countries throughout the world.

Access to Complete World is totally free and is available to anyone in any country with translation technology for fifteen languages.

The Call Back

Diposting oleh Arsyad Salam | Kamis, Februari 07, 2008 | | 0 komentar »

by Darren LaCroix, 2001 Toastmasters International World Champion

Darren la CroixEvery year the World Championship contest is an amazing event. Lance, the 2005 World Champion, was wonderful! He connected with the audience and executed his speech perfectly. Lance's message was simple and crystal clear. And a speech well worth studying!

My favorite line, however, came from one of the other contestants, Rowena Romero. During her interview she talked about how previous winners were all known for something. Rowena said, "David Brooks is known for his blue Jeans — Darren LaCroix is known for his fall on his face, I'll be know for my stool." (Rowena stood atop a footstool during her speech.)

Note: Rowena's comment is also a great example of the RULE of THREE.)

It was brilliant humor. That's good comedy! Very funny Rowena!

The Call Back

Ahhh! The call back. A "call back" is a comedy term that simply means "calling back" to an earlier laugh line, referring to an earlier joke that worked. (It makes no sense to "call back" to one that does not.)

If you have a laugh line that works consistently, it is a great idea to call back to it later in your presentation. The call back works best after the presenter moves on to a different topic. Then it is aided by the element of surprise, and a psychological connection with earlier laugh.

It can be even more powerful if you refer back to something said by a previous speaker. The audience loves it because they know that you had to be listening, have confidence, and enough presence to add it into your presentation.

An example from the World Championship Interviews: Johnny Uy, Senior Vice President of Toastmasters International, was the contest master. He was simply hysterical! During the interviews he asked the contestants questions in their native language. Most of the audience could not interpret the question. Douglas Kruger, a contestant from South Africa, took the opportunity (the "set up") to translate for humor purposes. Douglas said, "His question was about my underwear." He got a huge laugh.

Other contestants then used this opportunity when they were asked their question. Jerry Aiyathurai responded, "Fruit of the Loom." Rowena Romero said, "Wonder bra." All great call backs.

Most of you have experienced this as an audience member. Now you have a label for it, and can begin to look for the opportunity. I always try to connect to a huge laugh from earlier in a conference. When I hear a big laugh I ask myself, "How can I tie that into my presentation?"

How can you use this?

How to Become a World Champion SpeakerImagine what you will learn by spending a day or three with Darren!

© Darren LaCroix

Darren LaCroix, 2001 World Champion

darren@humor411.com

http://www.Presentation411.com

Using Affiliate Products To Start Making Money Online

Diposting oleh Arsyad Salam | Kamis, Februari 07, 2008 | | 10 komentar »

by Jo Mark

Making money online with affiliate programs actually has very little to do with the affiliate products. After you've completed your research to determine which products you want to promote, your involvement with the product ends. From that point on it is all about traffic. To be successful using affiliate products, you need to focus on sending traffic to the merchant's sale page. Period.

Most affiliate products convert at about 1 percent. That means for every 100 targeted visitors that see the product, only 1 will make a purchase. Many people try to diversify their Internet business by recommending eight or even ten different affiliate products.

Although this may sound like a good business strategy, it can make it very difficult to make money in the beginning, particularly if you only do this part time.

Over the past 7 days, I've sent a total of 848 visitors to the affiliate programs that I promote. Out of those 848 visitors, 7 of them made purchases. I'm able to do those kinds of numbers because I do this full time. If you are only working part time, you might only be able to get one tenth as much traffic.

If you are sending a total of 85 visitors a week split among 9 different affiliate programs, it might take you almost three months before you generate your first sale. Most people will give up long before that time and, as a result, they will never make money online.

If you are working this business part time, and you want to make money using affiliate products, use just one or two reasonably priced affiliate products. Focus all of your marketing efforts on these products. Using this strategy, you might expect to make your first sale in two to three weeks. But, in order to do this, you have to market aggressively. You should write articles, post on forums, use some form of outside advertising (even if it is free), and post ads on your site. Of course, this is not a complete list. But the point is, you need to use a variety of strategies to direct traffic to your merchants. By doing this, you can start making money online using affiliate products.

Do you want to learn how I make money? Get my new ebook and start making money online!

The Unknow Facts About Global Warming

Diposting oleh Arsyad Salam | Kamis, Februari 07, 2008 | | 1 komentar »

by: James Heimler

The issues about global warming and the effects of global warming are continuously under debate. Somehow the debate has made its way into virtually every aspect of our lives. There is even thought that the issues about global warming are also applicable to the beliefs that other beings from other planets were forced to make themselves to Earth as their planet began to deteriorate, due to global warming.

It is all around us. It is on the weather stations. It faces us when we decide to purchase a new car or even a cleaning product. The real issues come when trying to learn about global warming. There is a lot of conflicting information on the internet and there is not one group that can agree on all aspects of the global warming debate.

Over the past century, with out a doubt, global temperatures have risen. While the rise in temperature has been only a degree or so, the concern is whether the Earth's temperatures will continue to rise and what impact that will have on the environment. The controversy about the warming of the earth is a result of conflicting evidence.

The fact that global warming also occurred in the prehistoric era is a scientific point. Some think a large meteor hitting the planet caused an big change in the earth's temperature. Is that what killed the dinosaurs? Science cannot prove this conclusively yet. The political and industrial lobbies further complicate conversations about global warming. The contention of these groups is that, we currently do not know enough about the effects of global warming to limit industrial emissions.

When will we know the full facts about global warming and will the global warming issue be resolved anytime soon? Unfortunately the answer is no. There will continue to be studies performed and there will always be a measure of doubt clouding the minds of citizens around the world. Perhaps, when enough data comes through, we will be able to make a determination based on scientific fact rather than theory. Until then we can continue to monitor the progress of scientists and try to do our part in conserving the environment.

About The Author

As a Los Angeles architect for JHAI, http://www.jhai-architect.com, specializing in green architecture James Heimler knows the importance of protecting our environment and its resources.

America: The Presidents, The Politics And The Wars

Diposting oleh Arsyad Salam | Kamis, Februari 07, 2008 | | 0 komentar »

by: Nick Carter

The United States of America used to pride itself on a reputation for diplomacy and integrity. The world's largest economy, land of the capitalist dream. Immigrants would flock to America looking for their chance in life, looking to make a go of it all for their family. Then something went wrong. The global perception of the US changed, and suddenly the ethical and moral high ground was destroyed by needless bloodshed and political interference beyond the scope of their global role.

The Vietnam war - a tragedy of greed and senseless aggression. Vietnam wasn't an American war, yet it was this involvement that started the cycle of distrust and negative feeling towards the United States and everything it stood for. And that's not to mention the horrendous loss of life, and the destruction of lives caused by politically motivated violence. You'd think we'd learn our lesson, huh?

In 2003, George W. Bush with the support of Tony Blair sent hundreds of thousands of troops to invade Iraq on the premise of 'illegal weapons programmes' and 'imminent threats'. A chip off the old block, some would say. George H. W. Bush's invasion of 1990 failed to overthrow the regime or gain control of the wealth of oil in Iraq. His son was more fortunate.

One of the most controversial American authors of our time, Bob Miller has been a staunch campaigner against the Bush administrations of now and then, since back in 1976. A Veteran of the Vietnam war, Miller has been cast as a pariah, a renegade, and has even been taken into custody by the US Secret Service for his outspoken approach to American politics. Nevertheless Miller has continued his relentless attack on the Bush regime and everything it stands for, traveling the country to deliver his opinions on the real motives of the Bush family.

A Republican himself, Miller is no stranger to the world of political activism. Yet his controversial branding in the mainstream media has seen him cast aside as yet another extremist, unpatriotic and senseless. However, with his latest book "Kill Me If You Can, You SOB", Miller aims to express the true horrors of the Vietnam war, without descending into the same old 'this and that' of the Bush dynasty and their own brand of extremism.

Without forming opinions for the reader or giving a blow by blow account of the war and the politics behind it, Miller's latest effort is based on diary entries from his time in the war, telling the tale more graphically than could otherwise be possible of the horrors behind the wars and foreign policy of the Bush administrations.

As Miller was quoted as saying, "Bush has spent the lives of thousands of young Americans and billions of dollars for oil, not terrorists, and everyone knew it. To have participated in this needless savagery in any way is not only hypocritical, it's blasphemous. And to blame the son, and not the father, is like blaming the puppet, not the puppeteer. Like his father Prescott Bush, George H.W. Bush's epitaph should read, 'Here lies incomprehensible evil.'"

About The Author

Nick Carter is a veteran who had served the US Marines. He have written articles on Vietnam war and against the wars forced by Americans. He is a great admirer of Bob Miller, America's most controversial writer and author of Kill Me If You Can, You SOB. For more visit http://www.kill-me-if-you-can.com and http://www.bobmillerwrites.com

Birokrasi Tak Mati-Mati

Diposting oleh Arsyad Salam | Senin, Januari 28, 2008 | | 0 komentar »


Birokrasi memang kadang menjengkelkan, penuh tetek bengek dan formalitas. Gambaran itu tidak terlalu meleset bila kita pernah mengalami sendiri bagaimana kerumitan dan tetek-bengek itu terjadi. Silahkan mengurus KTP, IMB, SITU, proses termen di PKPN dan mengikuti lelang proyek. Di sana akan terbuka dengan jelas bagaimana birokrasi sesungguhnya terjadi dan berjalan : banyak meja yang harus dilewati, banyak paraf dan tanda tangan yang harus dibubuhkan di atas selembar kertas. Untuk satu blanko permohonan saja puluhan tanda tangan dan cap harus tertera di sana. Kadang susah membedakan lagi jabatan dan tanda tangan siapa dia gerangan.

Banyak orang mendongkol karena itu. Apalagi bila setiap meja yang dilalui identik dengan ‘amplop’ yang mesti disediakan. Banyak yang mengutuk birokrasi karena kerumitan dan biayanya itu. Birokrasi memang tak mati-mati meskipun dikutuk dan dimaki. Mungkin karena soalnya sederhana saja : kita memang memerlukannya. Birokrasilah yang menentukan surat nikah kita, mendata tempat tanggal lahir dan profesi kita, izin bangunan kita, izin usaha kita dan ijazah kita. Sebenarnya bukan hanya kita yang merasa dongkol dengan birokrasi. Jauh-jauh hari Blau sudah mengatakan bahwa birokrasi dalam istilah sehari-hari identik dengan ketidak efisienan.

Blau adalah Peter M Blau, seorang professor Sosiologi Birokrasi di Universitas Chicago Amerika Serikat. Melalui buku yang disusun tahun 1956 bersama Marshall W Meyer dan sudah menjadi klasik, Bureaucracy in Modern Society dia memaparkan secara gamblang dalam bahasa sederhana disertai contoh-contoh yang tepat. Informasi yang kita butuhkan tulis Blau, tak juga kita peroleh meskipun telah diping-pong dari meja seorang petugas ke meja petugas lain. Atau enam lembar formulir yang baru saja kita isi dikembalikan lagi oleh petugas hanya karena kita lupa mencoret huruf t atau lupa memberi titik pada huruf i. Atau surat-surat lamaran kita ditolak hanya karena kesalahan-kesalahan yang sifatnya teknis. Pada saat itulah kita akan teringat betapa rumitnya birokrasi.

“Selain identik dengan ketidak efisienan, birokrasi dapat diartikan pula sebagai efisiensi yang ketat dan penyebab terjadinya kesengsaraan di muka bumi sekarang ini” tulis Blau dengan sedikit sarkasme. Dalam skala besar, ia bahkan dapat digunakan sebagai suatu alat yang efektif untuk membantu kelompok-kelompok kuat mendominasi kelompok yang lain. Pada akhirnya dengan kebesarannya seperti itu menjadikannya lembaga yang sangat berkuasa yang mempunyai kemampuan sangat besar untuk berbuat kebaikan dan keburukan !

Kebaikan, keburukan dan tanda seru. Peter M Blau memang awas dan waspada. Jauh sebelumnya dia sudah dapat meramalkan bahwa di suatu hari nanti birokrasi pasti akan berlaku buruk.

Kita pun teringat pada sekumpulan orang-orang bersafari yang gagah yang tidak terlalu makmur namun tak cukup menderita karena gajinya selalu disubsidi oleh negara. Pada saat tertentu mereka juga diberi fasilitas lebih, perlakuan lebih dan kelebihan-kelebihan lainnya. Barisan aparat birokrat yang dikenal dengan nama pegawai itu di tanah air kita beberapa waktu silam pernah digerakkan dan digunakan untuk kepentingan yang berkuasa. Mereka dipakai untuk mencapai kuota, target dan porsentase tertentu. Dengan menggunakan bahasa dinas yang standar dan sudah terpola mereka menginvasi segala bidang mulai dari pelabuhan, terminal dan pasar tak ada yang luput dari jangkauannya. Sedihnya perilaku mereka kadang sudah di luar nilai kelayakan sebagai aparatur negara, yang secara ekonomi tidak punya nilai tambah apapun. Ramalan Peter M Blau akhirnya mendapat pembenaran.

Padahal kata Blau, birokrasi tidak dimaksudkan berlaku demikian. Ia dirancang karena pertimbangan praktis semata yakni untuk menangani tugas-tugas administratif dalam skala besar serta mengkoordinasikan pekerjaan orang banyak secara sistematis. Kata kunci dalam kalimat itu adalah sistematis. Sistematis, itulah yang tidak atau sekurangnya belum kita lihat di sini.

Jauh sebelum Blau ada Max Weber yang hidup antara 1864-1920. Ahli sosiologi sejarah berkebangsaan Jerman dan pelopor tiga tipe otoritas ini memandang birokrasi sebagai unsur utama dalam rasionalisasi dunia moderen. Dengan bahasa ilmuwan yang dikenal kering, Weber menulis bahwa birokrasi rasional pasti akan bertambah penting seiring dengan perkembangan zaman. Dengan begitu kata Weber birokratisasi merupakan proses yang tidak dapat dihindari.

Namun dalam proses rasionalisasi itu kata Weber pula, birokrasi cenderung berimplikasi pada pemisahan orang-orang dari sarana-sarana produksi dan pertumbuhan umum ke arah formalisme dalam organisasi. Terus terang saya tidak terlalu mengerti dengan kalimat ini, karena memang begitulah bahasa Weber, yang sekali lagi dikenal kering dan sulit dipahami, khususnya bagi mereka yang bukan ilmuwan. Saya mengutip dari bukunya Gezag en Bureaucratie Mungkin kalimat itu ditulis Weber untuk menyanggah teori Karl Marx dengan asas kolektifisme sosial komunis, yang memang terkenal dengan birokrasinya yang besar. Keduanya memang hidup dalam satu zaman dimana peran birokrasi mulai beranjak menjadi superior. Apa boleh buat, birokrasi dengan segala kerumitan dan biayanya itu rupanya memang tak bisa mati.(**)

Mengapa Kita Tidak Membaca?

Diposting oleh Arsyad Salam | Senin, Januari 28, 2008 | | 0 komentar »


Mengapa kita tidak membaca ?. Barangkali kita belum merasa bahwa membaca merupakan bagian kebutuhan yang penting dalam hidup kita, khususnya membaca buku. Betapa manfaat membaca sangatlah besar. Saya sendiri bukanlah pembaca yang tekun atau setidaknya belum. Padahal orang bijak pernah berkata membaca ibarat membuka jendela dunia. Barangkali beberapa gambaran berikut akan menunjukkan manfaat besar bila kita tekun melakoninya.

Dengan membaca buku saya menjadi tahu bahwa di Kerajaan Makassar dahulu-sekitar abad ke 13 tercatat pernah ada seorang raja bernama Karaeng Pattengaloan. Beliau adalah seorang yang sangat bijak, pandai menulis buku dan fasih berbahasa Spanyol. Baginda telah berhasil mendatangkan teleskop Galileo yang sangat mahal ke Makassar hanya 20 tahun sejak alat itu diciptakan. Melalui buku pula saya menjadi tahu bahwa perdebatan yang berlangsung dalam rapat-rapat BPUPKI di bulan Juni 1945 sungguh adalah perdebatan yang sangat berkualitas. Mungkin belum ada tandingannya hingga sekarang. Bayangkan, rapat itu di bawah todongan senjata tentara Jepang selaku pendiri BPUPKI, namun orang orang yang berdebat di dalamnya sangat independen dan merdeka dalam mengemukakan pendapat dan pikirannya.

Saya juga menjadi tahu melalui buku beberapa sisi gelap dari orang-orang pergerakan yang peran dan jasanya bagi negara sepertinya sengaja direduksi sehingga menimbulkan penafsiran yang sangat minimal seperti Semaun, Tan Malaka, Amir Syarifuddin dan Mohammad Natsir. Dalam buku sejarah resmi mereka ini digambarkan punya hubungan gelap dengan Republik. Semaun adalah aktifis berhaluan kiri seperti Tan Malaka. Amir Syarifuddin dituduh terlibat Madiun Affairs.
Sedang Mohammad Natsir dituding sebagai pendukung gerakan Darul Islam dan Negara Islam Indonesia. Padahal mereka itu adalah tokoh-tokoh revolusi paling konsisten sepanjang hidupnya. Dan jasa mereka terhadap negara tidaklah kecil.

Lagi-lagi melalui buku saya menjadi tahu sifat istimewa kapitalisme Jepang. Kapitalisme para manajer yang menganggap modal sama saja dengan rente yang harus dikembalikan. Kapitalisme macam ini mendudukkan karyawan biasa dalam perusahaan di tempat yang khas. Kalau karyawan di perusahaan Jepang berkata bahwa suatu perusahaan adalah perusahaannya itu berarti hanyalah tempat dia bekerja. Sementara di Eropa, Amerika dan Indonesia itu artinya perusahaan tersebut adalah miliknya. Tidakkah anda heran bila tahu bahwa Soichiro Honda pemilik Honda Corporation hanya memiliki 3 persen saham perusahaan raksasa tersebut ? sedangkan Matsushita pemilik Matshushita Electrik hanya menguasai 6 persen saham perusahaan itu. Anehnya nama mereka menempel menjadi nama perusahaan. Itulah sifat istimewa Kapitalisme Jepang yang bertujuan bukan mengumpulkan modal sebesar-besarnya akan tetapi berusaha mengumpulkan asset sebanyak-banyaknya.

Dari buku pula saya menjadi tahu mengapa bangsa-bangsa Amerika Latin sungguh mudah ditaklukan oleh penguasa Spanyol dahulu. Padahal sebabnya hanya karena hal-hal sepele : kurangnya penguasaan atas informasi. Bangsa-bangsa pribumi di Amerika Latin adalah orang-orang Indian yang gagah berani.
Raja Montezuma adalah salah satunya. Ia adalah penguasa Kerajaan Aztec di Meksiko. Ketika para conquistadores seperti Hernando Cortez melakukan penyerbuan besar-besaran terhadap Meksiko, Raja Montezuma hanya pasrah. Ia menjadi bingung karena menyangka bahwa orang-orang berkuda dari Spanyol itu adalah utusan para dewa yang datang menghukumnya. Ia belum pernah melihat orang-orang berkuda. Ia mengira tentara dan kuda yang ditungganginya itu adalah makhluk yang satu kesatuan. Ia tidak menguasai informasi. Ia kalah.
sedang Mohammad Natsir dituding sebagai pendukung gerakan Darul Islam dan Negara Islam Indonesia. Padahal mereka itu adalah tokoh-tokoh revolusi paling konsisten sepanjang hidupnya. Dan jasa mereka terhadap negara tidaklah kecil.

Saya juga pernah membaca buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karangan HAMKA. Terus terang sampai sekarang saya belum pernah membaca rangkaian kata-kata cinta nan indah yang sepadan dengan surat-surat cinta antara Zainuddin dan Hayati seperti dalam buku HAMKA tersebut.


Memang harus diakui kita belum termasuk dalam kategori orang yang membaca. Orang yang membaca masih sangat langka. Kita hanya membaca koran, majalah dan tabloid. Lumayan, supaya tidak ketinggalan informasi. Kita belum bisa mengikuti pola hidup almarhum Prof Rauf Tarimana yang sepanjang hidupnya diisi dengan membaca, membaca dan membaca. Dan itu berarti membaca buku dan faham setelah membacanya. Saya pernah bertanya pada salah seorang dosen Sospol sebuah universitas di daerah ini tentang pembagian kelas masyarakat antara Abangan, Santri dan Priyayi seperti hasil penelitian Clifford Geertz. Dengan senyum seperti orang sabar beliau menjawab terus terang bahwa masyarakat tidak bisa dibagi dengan kelas-kelas seperti itu. Aneh, seorang dosen Sospol sampai tidak tahu Clifford Geertz.


Ada lagi cerita di sebuah SMP. Pada saat Piala Dunia yang lalu, Senegal mengejutkan dunia dengan mempermalukan Perancis pada pertandingan perdana. Seorang siswa kelas satu SMP bertanya kepada gurunya, di benua manakah Senegal itu. Sang guru tampak berpikir keras dan menjawab bahwa Senegal terletak di benua Amerika bagian selatan, karena kulit mereka yang agak kehitam-hitaman. Si murid mengangguk paham. Sang guru rupanya tidak tahu karena tidak membaca bahwa Senegal terletak di Afrika Barat yang juga adalah bekas jajahan Perancis. Kasian kan ?

Pernahkan anda membaca karya-karya pengarang besar seperti Samuel Huntington, John Naisbitt, Francis Fukuyama, Gabriel Garcia Marquez, Rabindranath Tagore, Leo Tolstoy, Shakespeare, Mahatma Gandhi, Boris Pasternak, Ernest Hemingway, Kahlil Gibran, Emha Ainun Nadjib, Amien Rais, WS Rendra, Pramoedya Ananta Toer, Goenawan Mohammad, Eep Saefullah Fattah, William Liddle, Albert Camus dan Juwono Sudarsono ? kalau belum betapa rugi.

Pernah pulakah anda membaca buku-buku seperti Intervista Con La Storia (Wawancara Dengan Sejarah karangan Oriana Fallaci) , The Trial of Socrates (Peradilan Sokrates karangan IF Stone), Apologia (Pidato Pembelaan Sokrates di Mahkamah Athena karangan Plato), Il Principe (Sang Penguasa karangan Niccolo Machiavelli), Petualangan Sherlock Holmes karangan Sir Arthur Conan Doyle atau Max Havelaar karangan Multatuli alias Douwwes Dekker atau Hamlet karangan Shakespeare ? kalau anda belum membacanya, yakinlah kita belum dapat dikatakan sebagai orang yang membuka jendela dunia. (**)

Quo Vadis Reformasi Indonesia?

Diposting oleh Arsyad Salam | Minggu, Januari 27, 2008 | | 0 komentar »


Syahdan di abad ke 3 sebelum masehi, di Yunani Kuno, Sokrates ahli filsafat yang streng itu pernah mengejek demokrasi. “Demokrasi, katanya ,hanya kian memperburuk keadaan. “Apa yang yang akan dilakukan oleh para tukang batu, pandai besi dan para pematung itu andai mereka terpilih ke tribun rakyat dan jadi pemimpin?

Seandainya pertanyaan Sokrates itu diucapkannya di Indonesia hari-hari ini, pasti ia dikecam habis-habisan oleh para tukang batu dan rupa-rupa tukang lainnya. Bukan apa-apa, soalnya di Indonesia sekarang sedang bersemi demokrasi. Bahkan sudah kebablasan.

Asas persamaan hak bagi setiap orang, itulah yang ditentang Sokrates sejak awal. Utamanya hak untuk memilih dan dipilih. Tapi apa lacur, persamaan hak itulah yang dikemudian hari berkembang beranak pinak sebagai buah dari dekmorasi. Dan di Indonesia pun terjadilah reformasi.

Sejak genderang reformasi ditabuh dengan demokrasi sebagai panglimanya, kita pun mengalami perubahan yang ekstrim. Kini semua orang bebas bicara. Bebas berekspresi. Bebas mengkritik pemerintah. Bahkan imbasnya, orang-orang pun kini bebas melawan pemerintah, aparat hukum dan juga berani merusak fasilitas umum.

Nah sekarang mari kita evaluasi kinerja pemerintah di era reformasi ini. Bagaimana kinerja pemerintah kita? Apakah sudah baik? Sayang jawabannya adalah belum. Bagaimana kondisi perekonomian kita? Jawabnya juga kabar buruk. Dan kondisi politik? Inilah yang kian memperburuk keadaan. Partai politik berlusin-lusin, dengan para politisi yang kualitasnya nol.

Dan anggota parlemen? Wah jangan tanya kondisi bangsa pada mereka karena saat ini mereka sedang sibuk-sibuknya menyusun siasat menyetel undang-undang parpol agar mereka kelak terpilih kembali sebagai wakil rakyat.

Dan suara rakyat pun tinggal pepatah lama bernada manis ”Vox populi vox dei atau vox populi supreme lex” dengan realita yang sungguh memiriskan hati. Aspirasi rakyat kini tertutup rapat dalam laci meja anggota dewan yang katanya terhormat itu.

Dan kita pun teringat Sokrates. Andai ia masih hidup, mungkin akan menertawai kita sembari bergumam ”Benarkan apa yang saya akatakan?. (**)

Sokrates

Diposting oleh Arsyad Salam | Senin, Januari 21, 2008 | | 4 komentar »


Seorang pria bermuka buruk tampak bergelandang menyusuri lorong-lorong Yunani yang kuno dan berdebu diabad ke-3 sebelum masehi. Tubuhnya ringkih, lusuh dan kumal. Jubahnya itu-itu juga. Sebelum tongkat kayu membantunya berjalan.

Tapi ia bukanlah gelandangan sembarangan. Dalam penyusurannya itu, setiap kali berjumpa dengan kerumunan orang baik di Gymnasium dan Palaestra. Di emperan toko dan warung makan, ia akan mengajak mereka berdialog atau sekedar memancing diskusi. Mengemukakan argumen-argumen dan menguji argumen itu dengan logika berpikir yang biasanya sangat mengesankan.

Lelaki itu Sokrates namanya. Ahli filsafat ini barangkali tak akan tercatat dalam sejarah seandainya tidak punya murid-murid beken dan setia seperti Plato, Xenophon, Anthistenes dan Diogenes Laertius. Dari merekalah kita ketahui kiprah Sokrates dalam dunia filsafat. Sokrates tidak berprilaku sebagaimana layaknya ahli filsafat di masanya. Jika para filsuf di zaman itu mengangap diri orang yang ahli pengetahuan, Sokrates justru menganggap dirinya sebagai orang yang tidak tahu apa-apa. Ia misalnya mengejek Pericles seorang filsuf terkemuka kala itu dengan mengatakan “Pericles adalah negarawan yang gagal karena menyebabkan manusia gembalaannya menjadi lebih liar dibanding sebelum dia menanganinya”.

Kita tahu tak satupun buah pikirannya dituangkan dalam catatan maupun buku. Referensi kita tentang ahli filsafat yang streng itu adalah muridnya, Plato. Platolah yang menggambarkan Sokrates dalam imajinasi kita. Bahkan kemudian kita akan sulit membedakan antara buah pikiran orisinil Sokrates atau pendapat Plato sendiri. Hubungan guru murid ini kemudian bermetamorfosis bagi simbiosis mutualisma.

IF Stone, Ahli Sejarah Filsafat Barat dalam bukunya, The Trial of Sokrates menggambarkan hubungan ini dengan sangat menarik : Berkat kejeniusan karya Platolah Sokrates beroleh posisi sebagai santo sekuler peradababan barat. Sebaliknya, Sokrateslah yang membuat karya Plato tetap berada dalam daftar best seller.

Sokrates bukanlah pendukung oligarki, bukan pula pendukung demokrasi. Seperti tampak dalam buah pikirannya bahwa dua sistem itu tidak bermanfaat bila diterapkan dalam pemerintahan suatu negara.. Menurut Sokrates, suatu negara idealnya di perintah oleh ”orang yang tahu”. Ia kemudian memberi amsal: Dalam sebuah kapal yang terserang badai, orang yang tahu itulah yang memimpin awak lainnya. Pemilik kapal dalam hal ini harus tunduk pada orang yang tahu itu. Jika sistem voting (identik dengan demokrasi) yang dipakai untuk memilih nakhoda pada situasi genting seperti itu, maka kapal akan keburu tenggelam sebelum suara selesai dihitung.

Masalahnya kemudian adalah bagaimana cara mencari orang yang tahu itu. Bagaimana pula seandaianya ia kemudian menjadi penguasa yang lalim. Sokrates tak menjawab. Atau menjawab tidak sebagaimana mestinya. ”rakyat tidak perlu memikirkan pemimpinnya, karena rakyat ibarat hewan ternak gembalaan sang memimpin” demikian katanya. Kita kemudian dapat mendebat jawaban itu dengan mengatakan: biasanya sang penggembala tak pernah berdialog dengan sang ternak untuk mengirimnya ke pasar daging.

Sayang, hidup ahli Filsafat itu berakhir tragis. Dia dikenai hukuman mati karena dianggap merusak kaum mudah. Dan yang lebih fatal, negara mendakwanya menghasut masyarakat untuk tidak mengakui dewa yang diakui negara. Ironis memang. Padahal Athena saat itu adalah tempat dimana semua warga negaranya bebas mengeluarkan pendapat. Athena dengan kata lain adalah yang negara yang menganut faham demokrasi dalam bentuknya yang paling awal.

Dari tiga orang penuntut Sokrates dalam Mahkamah Athena yang terkenal itu, satu di antaranya bernama Anytus. Anytus adalah seorang demokrat sejati. orang inilah yang paling keras mendakwa Sokrates. ”Faham demokrasi” katanya, berada dalam ujian yang berat oleh karena itu semua unsur yang tidak sejalan dengan negara adalah murtad dan harus dihukum mati”.

Menghadapi tuntutan seram itu, Sokrates tak bergeming. Dalam Apologia (pidato pembelaan Sokrates di mahkamah Athena itu) yang ditulis Plato, Sokrates menyatakan bahwa dirinya ibarat “lalat penggelitik” yang dihadirkan negara oleh Tuhan. “Menurut Sokrates, negara seperti kerbau yang lamban geraknya. Untuk itulah perlunya lalat penggelitik agar kerbau tersebut dapat bergerak dinamis. Kita berkesimpulan bahwa sikap Sokrates tersebut ibarat kritikus di zaman kita sekarang.

Sokrates sebenarnya tak peduli dengan tuntunan itu. Bahkan tak peduli dengan kematiannya sendiri. Ia beranggapan lebih baik mengakhiri hidup dengan cara meminum racun, dari pada mengorbankan pendiriannya, walaupun sebenarnya ia bisa saja lolos dari tuntunan. Sikapnya dalam sidang bahkan terkesan memancing amarah juri. Akhirnya dari 500 anggota juri yang hadir, hanya 220 juri yang membelanya. Sisanya menyatakan: Sokrates harus dihukum.

Havelaar

Diposting oleh Arsyad Salam | Kamis, Desember 27, 2007 | | 0 komentar »


Tuan-tuan Kepala Negeri Lebak
Jika ada orang di antara kita yang melalaikan kewajibannya
Untuk mencari keuntungan, yang menjual keadilan demi uang
Atau merampas kerbau dari orang miskin dan buah kepunyaan orang yang lapar
Siapa yang akan menghukumnya ………….?

(Multatuli-Max Havelaar)

Kalimat di atas saya kutip dari pidato terkenal Asisten Residen Lebak Max Havelaar saat pertama menginjakkan kaki untuk melaksanakan tugas di daerah yang miskin itu di awal tahun 1856. Pidato tersebut konon membuat gusar para demang yang secara de vacto memang berada dibawah kuasa sang asistan residen. Syahdan Havelaar telah lama dan banyak tahu ulah para demang ini yang menurut Max sewenang-wenang serta menghisap rakyat.

Ironisnya masyarakat tak sependapat dengan Asisten Residen sendiri. Rakyat menganggap tidak tanduk para demang adalah hal jamak. Dalam struktur kekuasaan raja-raja jawa dahulu, seorang kawula memang harus setia dan taat pada junjungannya, tanpa reserve. Di situlah sulitnya posisi Havelaar dalam memperjuangkan keadilan di daerah yang kemudian dikenal dengan Banten Kidul ini.

Max Havelaar memang tipikal buat orang kolonial sezamannya. Pada saat para penguasa Belanda-yang dibantu para demang-menjadi kaum penindas ditanah jajahan, Havelaar datang menjadi “penolong” rakyat. Dan untuk itu ia harus menanggung konsekwensi yang tak ringan: diberhentikan sebagai Asisten Residen.

Max melihat-tentu dengan kacamata barat-bahwa penderitaan rakyat kala itu sebenarnya disebabkan oleh para penguasa bawahan. Juga karena mental masyarakat yang masih beranggapan bahwa rakyat harus tunduk dan takluk kepada penguasa mereka. Mengapa hal seperti itu dapat terjadi ?

Dalam sejarah mungkin kita tak akan tahu dengan pasti. Namun dalam roman terkenal Max Havelaar karangan Multatuli atau Dowwes Dekker, digambarkan secara gamblang bagaimana tingginya previlese para demang dan wedana kala itu. Banyak persembahan yang diserahkan orang ramai sebagai tanda setia mereka. Bahkan para demang selalu mengerahkan rakyat untuk mengerjakan sawahnya, tanpa bayaran. Itulah yang antara lain dilihat oleh Havelaar sebagai kesewenang-wenangan.

Konon kelakuan para demang ini kemudian oleh Hevelaar dilaporkan pada atasannya di Bogor. Namun jawaban yang datang kemudian sangat menusuk hati Asisten Residen yang pada awal roman mengaku sebagai makelar kopi di Amsterdam itu. Ia tak dibela. Padahal sebagaimana kita tahu, perjuangan Havelaar untuk menegakkan keadilan di Lebak sangat jelas.

Yang jadi soal kemudian adalah : mengapa kesadaran untuk membela rakyat tertindas kala itu datang dari orang seperti dia ? Sekali lagi kita tak tahu. Yang jelas advokasi Havelaar terhadap rakyat pribumi menunjukkan satu hal : Ia punya hati nurani, yang memang sangat universal sifatnya. Dengan kata lain ia tak memilih pada siapa ia harus berada. Saya teringat judul sebuah buku yang sangat menarik berisi polemik Soekarno dan Moh Hatta : Hati Nurani Melawan Kezaliman. Mungkin itulah yang paling tepat untuk menggambarkan sikap Havelaar saat itu.

Maka ketika Havelaar bertanya,bila ada penguasa yang merampas kerbau orang miskin dan buah kepunyaan orang yang lapar siapa yang akan menghukumnya ? Itulah pertanyaan klasik sebetulnya. Namun jawabnya tak mudah. Pun hingga hari-hari ini.(**)

Korupsi

Diposting oleh Arsyad Salam | Kamis, Desember 27, 2007 | | 0 komentar »


Syahdan tersebutlah seorang prajurit dan negarawan terkemuka Athena bernama Kimon. Pada suatu hari di tahun 463 SM, lelaki ini bersua dengan nasib yang aneh. Dia ditangkap dan kemudian diadili di mahkamah Athena yang terkenal itu atas tuduhan menerima suap dari Raja Macedonia, Aleksander Yang Agung.

Berindak selaku jaksa penuntut dalam sidang hari itu adalah filsuf terkenal Yunani, Pericles. Dalam tuntutannya, seraya memberi bumbu di sana sini, Pericles yang pernah diejek Sokrates sebagai penggembala yang gagal mendakwa Kimon bahwa perwira Athena yang terkenal lurus tersebut telah melakukan penghianatan kepada negara karena menerima suap dari Raja Aleksander.

Tentu saja Kimon membela diri. Dia membantah telah menerima suap dari sang raja Macedonia. Kimon mengaku bahwa kekayaan yang dimilikinya berasal dari gajinya yang sah sebagai seorang tentara berpangkat tinggi. Sebagian hartanya itu kemudian digunakan untuk merebut hati orang miskin. Ia menyediakan makanan gratis bagi warga Athena. Juga memberi pakaian pada orang-orang yang lanjut usia. Itu dilakukan agar ia dapat terpilih kembali sebagai pimpinan militer.

Ternyata kemudian terungkap, bahwa tuntutan terhadap Kimon hanyalah bohong-bohongan. Itu adalah akal-akalan Pericles semata untuk menjatuhkan Kimon dari posisinya. Alasannya : karena Pericles sendiri tidak mampu mengumpulkan kekayaan sebanyak itu. Ia iri.

Pericles lantas mencari akal. Atas nasehat Demonides, rekannya dari Oa, disusunlah suatu muslihat, dengan mengadakan jamuan makan besar-besaran. Pada saat itulah Pericles ke sana kemari menyogok setiap anggota juri kasus Kimon yang memang sengaja diundang dalam jamuan itu. Tentu saja disertai bisikan dengan maksud memberatkan posisi Kimon di pengadilan.

Kita tak tahu apakah Kimon bebas dari tuntutan. Kisah itu terlampau panjang untuk ruangan ini. Saya membacanya dalam sebuah buku yang sangat menarik tentang sejarah suap dan korupsi yang ditulis oleh Guru Besar Pengajian Melayu di Universitas Nasional Singapura, Syed Hussein Alatas. Buku yang berjudul Korupsi, Sifat, Sebab dan Fungsi itu menunjukkan dengan sangat bagus bagaimana suap dan korupsi berjalan termasuk daya rusak yang ditimbulkannya. Juga bahwa korupsi telah terjadi sejak zaman batu. Ia bagaikan warna darah yang tua dan hingga kini belum ada formula yang ampuh untuk membasminya.

Berbicara mengenai daya rusak korupsi kita teringat pada seorang ahli ekonomi Indonesia : Kwik Kian Gie. Tokoh PDI-P yang terkenal kritis ini mengatakan “Kerusakan oleh korupsi (KKN) yang sudah menjelma menjadi kerusakan pikiran perasaan,moral, mental dan ahlak membuahkan kebijakan-kebijakan yang sangat tidak masuk akal “.

Menurut Kwik, akibat lebih parah yang timbul kemudian adalah perasaan bahwa korupsi bukan merupakan suatu kejahatan. Orang menganggap korupsi sebagai hal yang jamak dan biasa terjadi. “Pikiran para penguasa yang sudah tidak waras lagi mengakibatkan kerusakan luar biasa pada masyarakat dan rakyat yang dipimpinnya” katanya.

Kalimat Kwik memang tajam dan langsung menohok.Tapi dia bukannya tanpa bukti. Dalam bukunya yang baru terbit berjudul "Pemberantasan Korupsi untuk Meraih Kemandirian, Kemakmuran, Kesejahteraan dan Keadilan, Kwik mensinyalir sembari memberi contah di sana sini. Ada pajak yang dibayar oleh pembayar pajak tetapi tidak masuk ke kas negara. Jumlahnya tak main-main : Rp 240 triliun. Ada pula kebocoran APBN sebesar 20 persen yaitu Rp 74 triliun. Di lain pihak terjadi pencurian pasir, kayu dan ikan yang nilainya mencapai Rp 90 triliun. Sementara bank yang tak kunjung sehat terus disubsidi dengan total bantuan Rp 40 triliun. Berapa nilai uang yang terbuang percuma akibat terjadinya korupsi seperti di atas ?

Jawaban Kwik Kian Gie adalah kabar buruk : Rp 444 triliun ! (dengan tanda seru). Artinya jumlah ini jauh lebih besar dibanding APBN tahun 2003 yang hanya Rp 370 triliun. Daya rusak korupsi menyebabkan kita terus ketagihan bantuan seperti orang yang seribu kalah porkas. Negara tidak dapat melaksanakan pembangunan tanpa bantuan lembaga internasional.

Seperti Mahathir Mohammad, Kwik juga sangat anti IMF. Di mata Kwik, IMF dan badan donor lainnya adalah lembaga rente yang perlu dihindari. Paket bantuan IMF misalnya disertai dengan coditionalities yang harus dipenuhi oleh pemerintah. Akibatnya bangsa kita terus didikte oleh pemberi bantuan. ”Kalau kita baca setiap Letter of Inten, kita tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan bahwa yang memerintah Indonesia sudah bukan pemerintah Indonesia sendiri. Jelas sekali bahwa kita sudah lama merdeka secara politik, tetapi sudah kehilangan kedaulatan dan kemandirian dalam mengatur diri sendiri “ katanya menggerutu seperti orang yang putus asa.(**)